Pertengahan April 2009, tak sengaja saya melihat tayangan di televisi yang menampilkan seorang artis yang diisue-kan melakukan aborsi dalam keadaan maaf- mengangkang - layaknya seorang pasien sedang diperiksa ‘bagian dalam’nya oleh dokter kandungan. Tayangan tersebut mencoba untuk menjadi alat bukti dari narasi yang disampaikan yaitu gossip yang menyebutkan si-artis sedang melakukan aborsi.
Rekaman peristiwa itu kelihatannya diambil dari atas, entah melalui jendela atau bagaimana persisnya saya tidak tahu, tapi keadaan yang tak layak untuk disiarkan ternyata lolos tayang dan dilihat entah oleh berapa juta penonton. Tayangan video itu diambil tanpa persetujuan artis, entah si-artis sedang melakukan aborsi atau tidak tapi video itu jelas-jelas menggangu privacy orang lain. Sebagai sesama perempuan saya ber-emphati, prihatin dan membuat saya sedih.
Sedikitpun saya tidak pernah membayangkan akan ber-emphati dengan artis yang disebut-sebut sebagai artis kontroversi dengan goyangannya dan kehidupan pribadinya . Tapi tayangan tersebut menohok hati nurani saya. Coba kita lupakan sejenak bayangan atas artis tersebut. Kita lihat dari perseptif yang lain. Seorang perempuan di RS, sedang diperiksa oleh tenaga medis melalui pemeriksanaan dalam, bagian kewanitaannya, dalam posisi yang saya sudah sebutkan diatas. Lalu ada seseorang yang merekam peristiwa tersebut tanpa sepengetahuannya kemudian menyiarkannya tanpa persetujuannya ke seluruh Indonesia. Dalam penyiarannya pun disebutkan perempuan tersebut kemungkinan sedang melakukan aborsi. Tuduhan yang tidak main-main, pembunuhan !
Bisakah anda bayangkan kejadian tersebut menimpa Anda, atau keluarga Anda?
Jikalau perempuan tersebut ternyata terbukti melakukan aborsi, dia harus dihukum sesuai hukum yang berlaku. Tetapi selama hal tersebut masih merupakan prasangka, maka perempuan tersebut harus dalam posisi praduga tak bersalah. Tayangan tersebut biarlah menjadi konsumsi pengadilan saja bukan jutaan penonton Indonesia.
Lalu dimana hati nurani produser acara TV tersebut, yang mau membeli rekaman peristiwa tersebut dan menyiarkannya? Jikalau rekaman atau video seperti itu lantas berharga mahal karena dianggap ekslusif maka dapat diramalkan akan banyak sekali orang-orang mengejar peristiwa-peristiwa serupa untuk menelanjangi orang lain, membuka aib seseorang habis-habisan demi uang.
Para penonton yang melihat tayangan tersebut terdiri dari penonton yang memang gemar dengan acara mengenai artis-artis atau penonton yang tidak sengaja melihatnya karena sedang memindahkan channel TV, seperti kejadian yang saya alami. Apa yang ditonton akan mempengaruhi orang tersebut, reaksi penonton terhadap tayangan tersebut bisa berbagai macam, ada yang sedih, prihatin, cuek atau bahkan menganggapnya biasa saja.
Saya jadi ingat perubahan budaya yang terjadi dalam beberapa tahapan yaitu terpaksa, bisa, biasa dan akhirnya menjadi budaya. Awalnya mungkin penonton terpaksa karena tidak ada pilihan lain, pindah channel tetap saja berita sejenis. Bisa ditonton oleh siapapun karena disiarkan di pagi atau sore hari. Kemudian akhirnya jadi biasa, rasanya kurang sreg kalau belum menonton tayangan seperti itu. Akhirnya menjadi budaya, biasa saja membuka aib orang lain, tanpa rasa bersalah. Budaya yang terbentuk oleh tayangan semacam itu jelas sangat merugikan.
Jika kemudian pihak yang merekam peristiwa tersebut dan pihak yang menayangkan berita tersebut dituntut dan dijebloskan ke penjara buat saya masih belum cukup, belum selesai.
Mereka yang terlibat seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Mereka yang tidak terlibat tapi acuh tak acuh sama saja dengan setuju, ikut menanggung dosa. Jelas dibutuhkan perbaikan atas tayangan seperti itu, kabarkanlah berita baik, sehingga orang akan terinspirasi untuk berbuat baik. Tayangan buruk saja bisa dijual, pasti tayangan yang baik lebih bisa dijual. Tinggal mau atau tidak.
Selasa, 21 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
