Minggu, 02 Mei 2010

Hikmah dibalik setiap kejadian “Hadiah Tak Diperlukan”

Pemilihan hadiah memang seharusnya dilihat dari kebutuhan atau kesenangan sipenerima, seandainya sipenerima tersebut adalah aku, sangat senanglah hatiku. Itu yang aku rasakan saat memperoleh kesempatan training ESQ profesional dari kantor, walaupun bukan training eksekutif seperti yang aku harapkan sejak lima tahun yang lalu. Perasaan senang tersebut ingin aku berikan pula kepada pasangan hidupku.

“Pa, ini buat papi” aku sodorkan amplop putih ke suamiku.
“Apaan nich, ESQ? ” katanya sambil membaca amplop bertuliskan ESQ.
“Iya, training ESQ buat papi” jawabku.
“Aku ngga perlu,” sahutnya ketus sambil menyorongkan kembali amplop tersebut tanpa dibukanya terlebih dahulu.
“Itu hadiah buat papi, trainingnya bagus lho pa” sahutku sambil tersenyum dan kembali menyodorkan amplop tersebut.
“Ya udah, ini hadiahnya aku terima, tapi aku ngga perlu” sahutnya lagi ketika menerima amplop tersebut tanpa menoleh dari laptopnya.
“Sayang lho pa, udah dibeli” aku mencoba membujuk sambil membuka amplop dan mengeluarkan voucher training ESQ eksekutif yang bertuliskan namanya.
“Ya udah dijual lagi aja atau kasih orang lain” sahutnya datar.
“Khan buat papi, jumat depan koq pa sampe minggu, bagus.... sayang kalo ngga dateng”
“Aku ga perlu! kamu ini senengnya maksa-maksa orang aja!” nada suaranya meninggi, kali ini dia menoleh kepadaku sorot matanya tajam dan jelas sekali memperlihatkan ketidaksukaannya.

Aku terdiam karena tidak ingin melanjutkan percakapan ini, takut kalau kelanjutan percakapan ini hanya saling menyakiti. Jelas aku kecewa, sedih, aku gigit bibirku untuk menjaga agar air mata ini tidak menetes, namun apa daya, aku si-melo yang menonton sinetron dengan pemain yang keliatan banget pura-pura sedihnya aja suka ikutan menangis, tidak mampu menahan setetes dua tetes air mata ini, aku menunduk, menit berikutnya aku berdiri masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.
Ya Allah...sabarkanlah aku...

Aku sholat dhuha, setelah itu teringat nasihat ustadzah Isnawati, guru pengajian kantorku yang ikhlas memberikan tausiah tanpa mau menerima bayaran, “Tilawahlah jika engkau sedang bersedih atau memiliki masalah, tilawahlah hingga engkau lelah, lalu bacalah artinya, insyaAllah mendapatkan pencerahan atau solusi”. Aku ambil Al Quran, aku baca surat An Nahl kemudian surat Ar Rahman dengan lirih sambil sesekali tersedu, lalu aku baca terjemahannya. Setelah capek, aku letakkan Al Quran itu, lalu akupun tiduran saja. Hilang sudah niat memasak, kalaupun dipaksa percuma, hasil masakannya pasti tidak enak, seperti perasaan hatiku saat itu.

Sebenarnya aku sudah bisa memperkirakan penolakan ini, itulah sebabnya awalnya aku ragu-ragu untuk membelikan voucher tersebut. Tadinya aku berencana membelikan voucher training untuk kelas regular saja, harganya tentu lebih murah, karena ya itu tadi takut ga dipake. Kalo dipake sich aku ikhlas membelikan voucher eksekutif sekalipun, tapi kalo ngga? Namun akhirnya aku putuskan untuk membelikan yang sesuai dengan keinginanku seandainya itu untuk diriku, ya jelas donk aku pengen banget mendengar langsung penjelasan ESQ dari sang maestro penemu ESQ, learnt form the expert, begitu resep keberhasilan. Balik ke pemilihan kelas training, maka aku pilihkan yang terbaik, konsekuensinya ya...harus ikhlas...ikrarku. Perkara dipake atau tidak ya..harus ikhlas, demikian berulangkali aku yakinkan diriku. Toh Allah menilai dari prosesnya bukan hasilnya. Prosesnya harus aku upayakan sebaik mungkin, hasilnya aku serahkan kepada Allah, itu hak preogratifnya Dia.

Namun ketika kejadian, wah...dimana ya yang namanya ikhlas itu sembunyi? Koq yang ada sedih, kecewa, nyesel ngebayangin duit segitu terbuang sia-sia, apalagi untuk keadaan aku saat ini terasa banyak sekali, bisa untuk digunakan hal lain yang bermanfaat. Ingat lagi saat pemesanan voucher, aku wanti-wanti kepada staf ESQ, “Tolong ditulis ya namanya” maksudnya ya..supaya dia mau, khan sayang...udah tertulis namanya ga bisa dipakai untuk orang lain. Aku juga ga niat untuk menjualnya ke orang lain, hanya untuk suamiku tersayang. Dia tau koq kalo harga training eksekutif tersebut mahal, apalagi dalam kondisi kami saat ini. Harapanku, kalopun dia malas, tapi tetap menghadiri karena khan sayang kalo tidak terpakai. Namun, sepertinya harapanku itu sekarang melayang jauh...entah kemana.

Entah berapa lama aku berbaring, sambil mengusap airmataku yang sesekali ada aja yang menetes. Taklama berselang terdengar suara adzan dzuhur, aku ambil wudhu lagi dan sholat dzuhur. Kulanjutkan lagi tilawahku, sekarang surat Al-Hajj, ingin sekali aku kelak naik haji bersama suamiku, lalu aku baca artinya.

Alhamdulillah, hatiku mulai tenang, wajah ustadzahku terlintas lagi ah.. seandainya bukan cuma sekedar namanya saja yang mirip denganku, semoga juga kecantikan dan kesabarannya, aku tersenyum.

Sebenarnya aku berfikir bahwa training tersebut akan membantunya dalam perjalanan pencarian diri, karena itu hanya berhasil bila kita mengetahui siapa diri kita, mau kemana kita sehingga menemukan arti hidup kita. Seperti training motivasi lainnya, bedanya, menurutku, training ESQ merupakan eksperimental training, sangat spiritual, setiap orang merasakan hal yang berbeda walaupun mungkin mengikuti training yang sama disaat yang sama, tergantung cara memaknainya...ya khan. Bisa jadi hadiah terbaik sebenarnya sesuatu yang diberikan oleh orang lain yang melihat kebutuhannya dari sudut yang tak terlihat olehnya, walaupun dia merasa tak membutuhkan. Seandainya suamiku lebih bijaksana, membuka hatinya untuk dapat menerima rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka, tapi...ah sudahlah, aku menghela napas panjang. Aku lirik jam di atas meja riasku ups...sudah mulai sore, siang ini aku tidak makan untuk kebutuhan jasmaniku, aku hanya memberi makan untuk kebutuhan spiritualku, karena manusia sebenarnya adalah mahluk spiritual. Tadi memang tidak terasa lapar, tapi sekarang, setelah hati menjadi tenang koq jadi merasa lapar ya. Ya itulah sunatullah, sesuai ketentuan Allah bagi mahluknya yang bernyawa, keadaan yang tidak dapat ditolak. Dan pastinya keluargakupun butuh makan, maka aku bergegas untuk memasak, semoga masakanku akan seenak hatiku kini.

Jakarta, 17 April 2010

Berikut hikmah dibalik kejadian tersebut yang dapat aku petik dari bacaan yang sangat mulia.

• Ketika merasa rugi karena sudah mengeluarkan uang untuk memberi voucher tersebut.
QS 16 (An Nahl/Lebah) : 71
“Dan Allah melebihkan rezeki setengah kamu dari yang lain, tetapi orang yang diberi kelebihan itu tidak mau mengembalikan rezekinya itu kepada orang yang menjadi kekuasaan tangan kanannya*), lalu mereka menjadi sama. Apakah nikmat Allah itu mereka ingkari?

*) Mereka yang memperoleh rezeki yang banyak, janganlah memiliki atau mempergunakan rezeki itu untuk sendiri saja, melainkan memberikannya sebagian kepada orang yang menjadi kekuasaan tangan kanannya atau orang yang membantunya dalam pekerjaan dan penghidupannya, sehingga kenikmatan rezeki yang dikaruniakan Tuhan itu dapat dirasakan bersama-sama.

• Ketika sedih dan kecewa dan ingin berbantahan saat dikatakan ‘senangnya memaksa orang lain’ walaupun itu untuk kebaikan.
QS 16 (An Nahl/Lebah) : 125
Ajaklah mereka kepada jalan Tuhan dengan bijaksana dan pengajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka menurut cara yang sebaik-baiknya *) sesungguhnya Tuhan engkau lebih tahu siapa yang tersesat dijalannya, dan Dia lebih tahu pula orang-orang yang menuruti jalan yang benar.

*) Untuk memanggil manusia kepada jalan Tuhan, mengembangkan agama kepada umum, Islam mengajarkan supaya dipakai cara kebijaksanaan, dengan ilmu dan hikmat, dengan memberi pengajaran yang baik, berdasar pertimbangan buruk baik, mudharat dan manfaat untuk diri dan masyarakat. Jika dilakukan perdebatan hendaklah dilakukan dengan baik dan sopan, mengadu dalil dan alasan dengan secara hati terbuka. Tidaklah benar tuduhan yang mengatakan Nabi menyiarkan agama Islam dengan pedang di tangan kanan dan Quran di tangan kiri. Hanyalah yang benar: Dengan keterangan dan alasan, Islam disiarkan, dan dengan pedang terhunus kemerdekaan agama dan ummatnya dipertahankan.

• Mencoba memahami ketika dia menolak bukan untuk menyakiti tapi mungkin karena hatinya yang masih buta.
QS 22 (Al Hajj/ haji) : 46
Tidakkah mereka berjalan di muka bumi, supaya mereka mempunyai hati yang dapat memikirkan atau telinga yang dapat digunakan untuk mendengar? Karena sebenarnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

Sabtu, 06 Juni 2009

Resep Tradisional Agar Badan Tetap Sehat

Saya punya resep ramuan tradisonal untuk menjaga stamina tubuh agar tetap sehat. Cocok sekali diminum oleh seluruh keluarga, terutama jika sedang capek, tubuh terasa kembali menjadi segar.
Bahan:
- 1 genggam beras merah
- 1 genggam kacang hijau (pilih yang bulat dan bening)
- 1 jari ( 2 ruas) kayu manis
- 1 helai daun pandan
- 1 batang sereh
- Gula aren sesuai selera
Cara membuat:
- Rebus seluruh bahan tersebut dengan 5 gelas air
- Jika air sudah mendidih, kecilkan api dan tutup panci
- Masak sampai kulit kacang hijau retak
- Saring dan airnya siap diminum
- Sisa bahan (yang sudah disaring) bisa digunakan sebagai pupuk tanaman
Selamat mencoba….

Selasa, 21 April 2009

Patutkah siaran televisi yang menampilkan aib seseorang dikupas habis-habisan?

Pertengahan April 2009, tak sengaja saya melihat tayangan di televisi yang menampilkan seorang artis yang diisue-kan melakukan aborsi dalam keadaan maaf- mengangkang - layaknya seorang pasien sedang diperiksa ‘bagian dalam’nya oleh dokter kandungan. Tayangan tersebut mencoba untuk menjadi alat bukti dari narasi yang disampaikan yaitu gossip yang menyebutkan si-artis sedang melakukan aborsi.
Rekaman peristiwa itu kelihatannya diambil dari atas, entah melalui jendela atau bagaimana persisnya saya tidak tahu, tapi keadaan yang tak layak untuk disiarkan ternyata lolos tayang dan dilihat entah oleh berapa juta penonton. Tayangan video itu diambil tanpa persetujuan artis, entah si-artis sedang melakukan aborsi atau tidak tapi video itu jelas-jelas menggangu privacy orang lain. Sebagai sesama perempuan saya ber-emphati, prihatin dan membuat saya sedih.
Sedikitpun saya tidak pernah membayangkan akan ber-emphati dengan artis yang disebut-sebut sebagai artis kontroversi dengan goyangannya dan kehidupan pribadinya . Tapi tayangan tersebut menohok hati nurani saya. Coba kita lupakan sejenak bayangan atas artis tersebut. Kita lihat dari perseptif yang lain. Seorang perempuan di RS, sedang diperiksa oleh tenaga medis melalui pemeriksanaan dalam, bagian kewanitaannya, dalam posisi yang saya sudah sebutkan diatas. Lalu ada seseorang yang merekam peristiwa tersebut tanpa sepengetahuannya kemudian menyiarkannya tanpa persetujuannya ke seluruh Indonesia. Dalam penyiarannya pun disebutkan perempuan tersebut kemungkinan sedang melakukan aborsi. Tuduhan yang tidak main-main, pembunuhan !
Bisakah anda bayangkan kejadian tersebut menimpa Anda, atau keluarga Anda?
Jikalau perempuan tersebut ternyata terbukti melakukan aborsi, dia harus dihukum sesuai hukum yang berlaku. Tetapi selama hal tersebut masih merupakan prasangka, maka perempuan tersebut harus dalam posisi praduga tak bersalah. Tayangan tersebut biarlah menjadi konsumsi pengadilan saja bukan jutaan penonton Indonesia.
Lalu dimana hati nurani produser acara TV tersebut, yang mau membeli rekaman peristiwa tersebut dan menyiarkannya? Jikalau rekaman atau video seperti itu lantas berharga mahal karena dianggap ekslusif maka dapat diramalkan akan banyak sekali orang-orang mengejar peristiwa-peristiwa serupa untuk menelanjangi orang lain, membuka aib seseorang habis-habisan demi uang.
Para penonton yang melihat tayangan tersebut terdiri dari penonton yang memang gemar dengan acara mengenai artis-artis atau penonton yang tidak sengaja melihatnya karena sedang memindahkan channel TV, seperti kejadian yang saya alami. Apa yang ditonton akan mempengaruhi orang tersebut, reaksi penonton terhadap tayangan tersebut bisa berbagai macam, ada yang sedih, prihatin, cuek atau bahkan menganggapnya biasa saja.
Saya jadi ingat perubahan budaya yang terjadi dalam beberapa tahapan yaitu terpaksa, bisa, biasa dan akhirnya menjadi budaya. Awalnya mungkin penonton terpaksa karena tidak ada pilihan lain, pindah channel tetap saja berita sejenis. Bisa ditonton oleh siapapun karena disiarkan di pagi atau sore hari. Kemudian akhirnya jadi biasa, rasanya kurang sreg kalau belum menonton tayangan seperti itu. Akhirnya menjadi budaya, biasa saja membuka aib orang lain, tanpa rasa bersalah. Budaya yang terbentuk oleh tayangan semacam itu jelas sangat merugikan.
Jika kemudian pihak yang merekam peristiwa tersebut dan pihak yang menayangkan berita tersebut dituntut dan dijebloskan ke penjara buat saya masih belum cukup, belum selesai.
Mereka yang terlibat seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Mereka yang tidak terlibat tapi acuh tak acuh sama saja dengan setuju, ikut menanggung dosa. Jelas dibutuhkan perbaikan atas tayangan seperti itu, kabarkanlah berita baik, sehingga orang akan terinspirasi untuk berbuat baik. Tayangan buruk saja bisa dijual, pasti tayangan yang baik lebih bisa dijual. Tinggal mau atau tidak.

Rabu, 31 Desember 2008

Renungan akhir tahun 2008

Akhir tahun 2008, sepertinya mengharuskan saya untuk lebih introspeksi, badan lagi agak demam, jadi ngendon di rumah aja. Anak ikutan tahun baru dengan kakak saya, kemping di taman buah Mekarsari, pembantu keliling bareng teman-temannya. Tinggal duaan dech dengan suami. Tapi...kayaknya lagi asyik masing-masing...dia asyik dengan jomla-nya, open source untuk blog, saya...jomblo dech.

Karena niatnya instrospeksi, cari bacaan yang bikin pencerahan. The best book's is a holly Quran, sengaja yang saya baca adalah tafsirnya...yang belum pernah tamat saya baca...Astagfirullah. Ngakunya al Quran adalah pedoman hidupku, namun hingga usia mendekati 39 tahun belum juga tuntas membaca tafsirnya, bagaimana mau mengamalkan dengan benar ? Ampuni hambamu ini ya Allah...

Saya membalik halaman tafsir Al Azhar jilid I-II dengan acak, biasanya halaman yang 'tidak sengaja' terbuka tepat dengan suasana hati yang sedang butuh panduan. Ternyata Surat Al Baqarah ayat 35 tentang Adam dan Hawa, penjelasan mengenai penciptaan Hawa serta hadis yang mengingatkan orang laki-laki tentang perangai dan tabit perempuan supaya pandai-pandai membimbingnya, sungguh membuat saya mengerti diri saya sebagai perempuan.

Hadis Imam Bukhari dan Muslim :
"Peliharalah perempuan-perempuan itu sebaik-baiknya, karena sesungguhnya perempuan dijadikan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk itu, ialah yang sebelah atasnya. Maka jika engkau tinggalkan saja, dia akan tetap bengkok. Sebab itu peliharalah perempuan-perempuan baik-baik".

"Sesungguhnya perempuan itu dijadikan dari tulang rusuk. Dia tidak akan dapat lurus untuk engkau atas suatu jalan. Jika engkau mengambil kesenangan dengan dia, namun dia tetap bengkok. Dan jika engkau coba meluruskannya, niscaya engkau mematahkannya. Patahnya itu talaknya".

Sebetulnya hadis tersebut sudah sering saya dengar, tapi menjelasannya seperti dibawah ini yang menyentuh hati saya.

Laki-laki, sabar-sabarlah menghadapi perempuan. Kalau dipaksa-paksa meluruskannya, diapun patah. Kalau dibiarkan saja, tidak dihadapi dengan sabar, bengkoknya itu akan terus.
Kalau laki-laki tidak hati-hati membimbing istrinya, kalau terus bersikap keras saja, talaklah yang terjadi dan patah aranglah rumah tangga.

Perempuan....terkadang tidak objektif, serta sentimentil namun ternyata setengah dari sifat bengkoknya perempuan memiliki jiwa pengasih, hiba dengan orang yang sedang susah atau sakit.

Perbedaan yang tidak berusaha dimengerti oleh masing-masing pasangan suami-istri tersebutlah yang sering membawa 'gesekan'. Istri sangat ingin diperhatikan jika sedang sakit, sementara suami lebih melihatnya 'yang penting udah minum obat'.
Istri sangat ingin didampingi ketika kesulitan, suami melihatnya sebagai masalah kecil.

Namun, perbedaan tersebut membawa rahmat.
Seorang laki-laki yang belum kawin seumpama orang yang masih belum ada tulak rusuknya, karena itu istri disebut teman hidup, sandaran yang menentramkan jiwa.
Demikian juga dengan seorang perempuan, kalau belum bersuami sama seperti tulang rusuk yang terlepas dari perlindungan. Bila dia telah bersuami, dia telah diletakkan ditempatnya semula, terlindung oleh pembungkus tulang rusuk itu, yaitu perlindungan suami.
Subhanallah....

Alhamdulillah....Engkau telah menentramkan hati hambaMu yang gelisah ini.
Dengan mengerti diri saya sebagai sosok perempuan yang diciptakan Allah, menjadikan diri saya lebih objektif melihat sosok laki-laki yang sungguh berbeda. Semoga Allah menjadikan rumah tangga kami sakinah mawaddah warahmah, saling pengertian dan sayang menyayangi.

Ya Allah... Yang Maha Pengampun, ampunilah segala hal yang aku lakukan di tahun ini yang tidak Engkau ridhai..., terimalah segala amalku di tahun ini yang Engkau ridhai...
dan janganlah Engkau putuskan harapanku di tahun mendatang kepada-Mu wahai yang Maha Mulia. Dan semoga Allah melimpahkan segala rahmat dan salam-Nya kepada seluruh muslimin dan muslimat di seluruh dunia, terutama kepada saudara-saudara kami yang digempur di Palestina.
Amien...

Rumah, 31 Des'08

Senin, 15 Desember 2008

Lahirnya Blog ini

Kamis, 11 Desember 2008 saya mengikuti Markplus Conference 09, Hermawan Kartajaya mengajak seluruh hadirin dengan teriakan lantang "Are you ready to take-off?" sambil mengacungkan tangan kanannya dan membentuk simbul new wave marketing dengan melipat ketiga jari kelingking, jari manis dan jari tengah, serta membiarkan jari telunjuk dan jempol tetap tegak. Langsung disambut oleh hadirin dengan mengacungkan jarinya masing-masing dengan simbol yang sama, wah saya juga ikutan donk.."ready....!". Bergemalah lagu yang khusus diciptakan untuk peluncuran new wave marketing menyongsong tahun 2009 dengan gaya marketing yang baru, memasuki era digitalisasi.Padahal ketika hari sabtu, sambil santai selonjoran di sofa, saya bilang ke anak saya..."wah Kev, mama ini ga punya blog, ga punya facebook, ketinggalan jaman ya..." Ya...saya merasa udah kehabisan energi dan ngga bakal sempet punya blog atau komunitas di dunia maya, yang pasti menghabiskan waktu. Namun tanggapan anak saya sangat menarik "Kevin ajarin ma..." anak saya yang baru umur 8,5 tahun memang sudah punya blog, tengoklah blognya di http://kevin-darmawan.blogspot.com, dia bersemangat banget ngajarin cara buat blog, suami juga bantuin sehingga jadilah blog saya ini menunggu kehadiran anda.